Selasa, 07 Januari 2014

TAKHRIJ HADITS TENTANG DO’A SEBELUM MAKAN



حدثني فضل بن سليمان حدثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ حدثنا مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ حدثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ عن عَمرِو بنِ شُعيبٍ عن أبِيهِ عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو رضي الله عنهما عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أنّهُ كان يقُولُ فِي الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : اللّهُمّ بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ (فى الكتاب "اعمال اليوم و الليلة" لإبن سنّى)

·      Kritik Rijalul Hadits

1.    Fadhal bin Sulaiman
2.    Hisyâm bin ‘Ammâr
a.     Nama lengkapnya adalah Hisyâm bin ‘Ammâr  bin Nashîr bin Maisarah as-Sulamî atau azh-Zhifrî ad-Dimasyqî (w. 245 H)
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; Ibrâhim bin Mȗsa al-Makkî, Radîh bin ‘Athiyah al-Quraisyî, Sa’îd bin Yahya dan lainnya.[1] Murid-muridnya antara lain ; Abȗ ‘Ubaid al-Qâsim,
c.     Penilaian kritikus hadis:
1)   Ibn Hibbân menyebutkannya di dalam ats-Tsiqât.[2]
2)   Al-‘Ijlî ; tsiqah, shadȗq.[3]
3)   Abȗ Hâtim ; dia shadȗq akan tetapi ketika usianya telah tua hafalannya berubah.[4]
4)   Ibn Ma’in ; tsiqah.
Para kritikus hadis menilai Hisyâm bin ‘Ammâr  sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya, namun hafalannya memburuk ketika telah tua.
3.    Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘îsa bin al-Qâsim bin Sumai’ ad-Dimasyqî Mula Mu’awiyah al-Quraisyî (w. 204-206).
b.    Guru-gurunya antara lain ; Zaid, Wâqid, Humaid ath-Thawîl, ;Ubaidullah bin ‘Umar, Rȗh bin al-Qâsim, Ibn Abî Dzi’bin dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Hisyâm bin ‘Ammâr, ‘Abd al-Rahman bin Yahya, al-‘Abbâs bin al-Walîd ad-Dimasyqî dan lainnya.[5]
c.    Penilaian para kritikus hadis:
1)   Abȗ Hâtim ; seorang guru yang hadisnya boleh ditulis namun tidak dapat dijadikan hujah.[6]
2)   Ibn Hajar ; shadȗq, sering salah dalam meriwayatkan hadis, seorang mudallis, tertuduh berfaham al-Qadariyyah.[7]
3)   Abȗ Dâwud ; laisa bihi ba’sun, tetapi dicurigai berfaham al-Qadariyyah.
Para kritikus hadis menilai Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’ sebagai perawi yang hadisnya tidak dapat dijadikan hujah, selain itu dia seorang mudallis. Riwayat mudallis memakai lafal  yang mengindikasikan pendengaran langsung dapat diterima, namun dia tetap cacat karena dituduh pelaku bid’ah.
4.    Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.[8]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ‘Atha’, Nâfi’, ‘Amr bin Syu’aib dan lainnya. Murid-muridnya antara lain ; Muhammad bin ‘Isâ bin Sumai’.[9] Menurut Ibn Hajar, muridnya ini adalah satu-satunya murid yang dimiliki rawi ini.[10]
c.    Penilaian kritkus hadis ;
1)   Abȗ Hâtim ; tidak usah menyibukan diri dengan hadis-hadisnya.Mungkar al-hadîts.[11]
2)   Ibn Hibban ; salah satu Dajjal, dia meriwayatkan hadis-hadis palsu.[12]
3)   Al-Bukhârî ; munkar al-hadîts jiddan. Hadisnya tidak boleh dituliskan.[13]
Para kritikus hadis mencela Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah sebagai seorang perawi yang tidak bisa dipercaya, sering memalsukan hadis, bahkan oleh Ibn Hibbân disebut Dajjal yang menunjukan bahwa dia seorang pendusta.
5.    ‘Amr bin Syu’aib
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ayahnya yaitu Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr, Sa’id bin al-Musayyab, Thâwus, dan lainnya. Murid-muridnya antaral lain Hassâ bin ‘Athiyyah, az-Zhuhrî, Ibn Juraij dan lainnya.[14]
c.    Komentar  para kritikus hadis ;
1)   Yahya bin Sa’id al-Qaththân ; jika yang meriwayatkan darinya adalah seorang yang tsiqah, maka riwayatnya bisa dipercaya.
2)   Yahya bin Ma’in ; tsiqah jiak ia meriwayatkan dari seorang yang tsiqah
3)   Abȗ Hâtim ; tidak kuat (laisa bi qawiy) akan tetapi hadisnya boleh ditulis.
4)   Abȗ Zur’ah ; dia tsiqah, akan tetapi para kritikus membicarakannya karena kelemahan pada tulisannya (bi sabâb kitâbin) miliknya.
5)   Al-Bukhârî ; kebanyakan ashab kami berhujah dengan hadis yang diriwayatkannya dari ayahnya dari kakeknya.
Ada cacat para diri Amr bin Syu’aib yang menjadi perbincangan para kritikus hadis, namun menurut al-Bukhârî hadis dari ayah dari kakeknya dapat dijadikan hujah, hadis ini adalah dari ayahnya dari kakeknya.
6.    Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah
a.    Nama lengkapnya adalah Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ‘Amr bin al-Ash, Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Ibn ‘Umar, dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Tsâbit al-Bannânî, dua orang putranya yaitu ‘Amr dan ‘Umar, ‘Atha’ al-Khurasânî dan lainnya.[15]
c.    Penilaian para kritikus hadis :
1)   An-Nawâwî ; dia tsiqah, dan sebagain kritikus mengingkari bahwa ia mendengarkan hadis dari kakeknya pengingkaran mereka itu salah.[16]
2)   Ibn Hibban menganggapnya tsiqah.
3)   Adz-Dzahabî ; shadȗq.
Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah dinilai terpercaya oleh para krtikus, dan riwayatnya dari kakeknya yaitu sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, diperselisihkan, ulama yang menganggapnya benar adalah an-Nawâwî sebagaimana telah disebutkan.
7.    ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bin Wâil as-Sahmî al-Qursyî Abȗ Muhammad.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; beliau adalah sahabat yang mendengarkan langung hadis dari Nabi saw, disamping itu juga dari shabat lain seperti Ubay bin Ka’ab bin Qais, Surâqah bin Mâlik. Murid-muridnya antara lain ; Abȗ Zur’ah, Aus bin Aus dan lainnya.
Beliau adalah seorang sahabat yang utama, dia diizinkan oleh Rasulullah saw untuk mencatat semua perkataan Rasulullah saw baik ketika beliau saw sedang senang maupun ketika sedang marah.[17]
·      Kesimpulan
Dari penelitian terhadap sanad keduanya, dapat disimpulkan bahwa kedua jalur riwayat tersebut melalui seorang rawi yang lemah bahkan dituduh pendusta bernama Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah. Oleh karena itu meskipun terdapat dua jalur, tetap tidak dapat “ditolong” karena keduanya melalui satu rijal yang tidak bisa dipercaya. Hadis doa makan ini termasuk hadis dla’if.






[1] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât, edisi as-Sayyid Syaraf ad-Dîn Ahmad, (ttp : Dâr al-Fikrî, 1975), VI : 374, 311.

[2] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,…, IX:233.

[3] Al-‘Ijlî, Ma’rifah  ats-Tsiqât, edisi ‘Abd al-‘Alîm ‘Abd al-‘Azhîm, (Madinah : Maktabah ad-Dâr, 1985), II:332.

[4] Al-Bâjî, at-Tadîl wa Tajrîh li Man Kharraja lahȗ al-Bukhârî fi al-Jâmi’ as-Shahîh, edisi Abȗ Lubâbah Husain, (Riyadh : Dâr al-Wâ’I li an-Nasyr wa at-Tauzi’), III:1173.

[5]  Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dîl, (Beirut : Dâr al-Ihyâ’ at-Turâts, 1952), VIII: 37.
[6] Ibid., hal 38.

[7] As-Suyȗthî, Asmâ’ al-Mudallisîn, edisi Mahmȗd Muhammad Mahmȗd Hasan Nashshâr, (Beirut : Dâr al-Jîl, tt), hal 89.

[8] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.

[9] Ibid.

[10] Ibn Hajar, Lisân al-Mizân, editing oleh penertbit, (India : Dâirah al-Mu’arrif an-Niszhâmiyyah, 1986), V:165.

[11] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.

[12] Ibn al-Jauzî, adh-Dhu’afâ’ wa al-Matrukîn, edisi ‘Abdullah al-Qâdhî, (Beirut : Dâr al-Kutȗb al-‘Ilmîyyah, 1406 H), III:59.

[13]Ibid.
[14] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dîl…VI : 238.

[15] An-Nawâwî, Tahdzîb al-Asmâ’ , edisi Musthafa ‘Abd al-Qâdir Athâ, (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt), I:346.
[16] Ibid.

[17] Ibn al-Atsîr, Usd al-Ghâbah fi Ma’rifah as-Shahâbah, I:657.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENYERTAAN DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hukum pidana Islam dapat dijelaskan menggunakan teori penyertaan yang sama halnya de...