حدثني فضل بن سليمان حدثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ حدثنا
مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ حدثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ عن عَمرِو بنِ
شُعيبٍ عن أبِيهِ عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو رضي الله عنهما عنِ النّبِيِّ صلى
الله عليه وسلم أنّهُ كان يقُولُ فِي الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : اللّهُمّ
بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ (فى الكتاب
"اعمال اليوم و الليلة" لإبن سنّى)
·
Kritik
Rijalul Hadits
2. Hisyâm bin ‘Ammâr
a. Nama lengkapnya adalah Hisyâm bin ‘Ammâr bin Nashîr bin Maisarah
as-Sulamî atau azh-Zhifrî ad-Dimasyqî (w. 245 H)
b. Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; Ibrâhim bin Mȗsa
al-Makkî, Radîh bin ‘Athiyah al-Quraisyî, Sa’îd bin Yahya dan lainnya.[1] Murid-muridnya
antara lain ; Abȗ ‘Ubaid al-Qâsim,
c.
Penilaian kritikus
hadis:
1) Ibn Hibbân menyebutkannya di dalam ats-Tsiqât.[2]
2) Al-‘Ijlî ; tsiqah, shadȗq.[3]
3) Abȗ Hâtim ; dia shadȗq akan tetapi ketika
usianya telah tua hafalannya berubah.[4]
4) Ibn Ma’in ; tsiqah.
Para kritikus hadis
menilai Hisyâm bin ‘Ammâr sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya,
namun hafalannya memburuk ketika telah tua.
3. Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’
a. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘îsa bin al-Qâsim bin Sumai’
ad-Dimasyqî Mula Mu’awiyah al-Quraisyî (w. 204-206).
b. Guru-gurunya antara lain ; Zaid, Wâqid, Humaid ath-Thawîl,
;Ubaidullah bin ‘Umar, Rȗh bin al-Qâsim, Ibn Abî Dzi’bin dan lainnya.
Murid-muridnya antara lain Hisyâm bin ‘Ammâr, ‘Abd al-Rahman bin Yahya,
al-‘Abbâs bin al-Walîd ad-Dimasyqî dan lainnya.[5]
c. Penilaian para kritikus hadis:
1) Abȗ Hâtim ; seorang guru yang hadisnya boleh ditulis namun
tidak dapat dijadikan hujah.[6]
2) Ibn Hajar ; shadȗq, sering salah dalam meriwayatkan hadis,
seorang mudallis, tertuduh berfaham al-Qadariyyah.[7]
3) Abȗ Dâwud ; laisa bihi ba’sun, tetapi dicurigai berfaham
al-Qadariyyah.
Para kritikus hadis
menilai Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’ sebagai perawi yang hadisnya tidak
dapat dijadikan hujah, selain itu dia seorang mudallis. Riwayat mudallis
memakai lafal yang mengindikasikan pendengaran langsung dapat
diterima, namun dia tetap cacat karena dituduh pelaku bid’ah.
4. Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.
a. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.[8]
b. Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ‘Atha’, Nâfi’, ‘Amr bin
Syu’aib dan lainnya. Murid-muridnya antara lain ; Muhammad bin ‘Isâ bin
Sumai’.[9]
Menurut Ibn Hajar, muridnya ini adalah satu-satunya murid yang dimiliki rawi
ini.[10]
c. Penilaian kritkus hadis ;
1) Abȗ Hâtim ; tidak usah menyibukan diri dengan hadis-hadisnya.Mungkar
al-hadîts.[11]
2) Ibn Hibban ; salah satu Dajjal, dia meriwayatkan hadis-hadis
palsu.[12]
3) Al-Bukhârî ; munkar al-hadîts jiddan. Hadisnya
tidak boleh dituliskan.[13]
Para kritikus hadis
mencela Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah sebagai seorang perawi yang tidak
bisa dipercaya, sering memalsukan hadis, bahkan oleh Ibn Hibbân
disebut Dajjal yang menunjukan bahwa dia seorang pendusta.
5. ‘Amr bin Syu’aib
a. Nama lengkapnya adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
b. Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ayahnya yaitu Muhammad
bin ‘Abdullah bin ‘Amr, Sa’id bin al-Musayyab, Thâwus, dan lainnya.
Murid-muridnya antaral lain Hassâ bin ‘Athiyyah, az-Zhuhrî, Ibn
Juraij dan lainnya.[14]
c. Komentar para kritikus hadis ;
1) Yahya bin Sa’id al-Qaththân ; jika yang meriwayatkan darinya adalah seorang
yang tsiqah, maka riwayatnya bisa dipercaya.
2) Yahya bin Ma’in ; tsiqah jiak ia meriwayatkan dari seorang
yang tsiqah
3) Abȗ Hâtim ; tidak kuat (laisa bi qawiy) akan tetapi
hadisnya boleh ditulis.
4) Abȗ Zur’ah ; dia tsiqah, akan tetapi para kritikus
membicarakannya karena kelemahan pada tulisannya (bi sabâb kitâbin)
miliknya.
5) Al-Bukhârî ; kebanyakan ashab kami berhujah dengan hadis
yang diriwayatkannya dari ayahnya dari kakeknya.
Ada cacat para diri Amr
bin Syu’aib yang menjadi perbincangan para kritikus hadis, namun menurut
al-Bukhârî hadis dari ayah dari kakeknya dapat dijadikan hujah, hadis ini
adalah dari ayahnya dari kakeknya.
6. Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah
a. Nama lengkapnya adalah Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr
bin al-Ash.
b. Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ‘Abdullah bin ‘Amr bin
al-‘Ash, ‘Amr bin al-Ash, Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Ibn
‘Umar, dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Tsâbit al-Bannânî, dua orang
putranya yaitu ‘Amr dan ‘Umar, ‘Atha’ al-Khurasânî dan lainnya.[15]
c. Penilaian para kritikus hadis :
1) An-Nawâwî ; dia tsiqah, dan sebagain kritikus mengingkari
bahwa ia mendengarkan hadis dari kakeknya pengingkaran mereka itu salah.[16]
2) Ibn Hibban menganggapnya tsiqah.
3) Adz-Dzahabî ; shadȗq.
Syu’aib bin Muhammad
bin ‘Abdullah dinilai terpercaya oleh para krtikus, dan riwayatnya dari
kakeknya yaitu sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, diperselisihkan, ulama
yang menganggapnya benar adalah an-Nawâwî sebagaimana telah disebutkan.
7. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
a. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bin Wâil as-Sahmî
al-Qursyî Abȗ Muhammad.
b. Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; beliau adalah sahabat
yang mendengarkan langung hadis dari Nabi saw, disamping itu juga dari shabat
lain seperti Ubay bin Ka’ab bin Qais, Surâqah bin Mâlik. Murid-muridnya antara
lain ; Abȗ Zur’ah, Aus bin Aus dan lainnya.
Beliau adalah seorang
sahabat yang utama, dia diizinkan oleh Rasulullah saw untuk mencatat semua
perkataan Rasulullah saw baik ketika beliau saw sedang senang maupun ketika sedang
marah.[17]
·
Kesimpulan
Dari penelitian terhadap sanad keduanya, dapat disimpulkan bahwa
kedua jalur riwayat tersebut melalui seorang rawi yang lemah bahkan dituduh
pendusta bernama Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah. Oleh karena itu meskipun terdapat
dua jalur, tetap tidak dapat “ditolong” karena keduanya melalui satu rijal yang
tidak bisa dipercaya. Hadis doa makan ini termasuk hadis dla’if.
[1] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,
edisi as-Sayyid Syaraf ad-Dîn Ahmad, (ttp : Dâr al-Fikrî, 1975), VI : 374, 311.
[2] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,…,
IX:233.
[3] Al-‘Ijlî, Ma’rifah ats-Tsiqât, edisi ‘Abd al-‘Alîm ‘Abd
al-‘Azhîm, (Madinah : Maktabah ad-Dâr, 1985), II:332.
[4] Al-Bâjî,
at-Tadîl wa Tajrîh li Man Kharraja lahȗ al-Bukhârî fi al-Jâmi’ as-Shahîh, edisi
Abȗ Lubâbah Husain, (Riyadh : Dâr al-Wâ’I li an-Nasyr wa at-Tauzi’), III:1173.
[5] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dîl, (Beirut
: Dâr al-Ihyâ’ at-Turâts, 1952), VIII: 37.
[6] Ibid., hal 38.
[7] As-Suyȗthî, Asmâ’
al-Mudallisîn, edisi Mahmȗd Muhammad Mahmȗd Hasan Nashshâr, (Beirut : Dâr
al-Jîl, tt), hal 89.
[8] Ibn Abî Hâtim,
al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.
[9] Ibid.
[10] Ibn Hajar, Lisân al-Mizân, editing oleh penertbit, (India :
Dâirah al-Mu’arrif an-Niszhâmiyyah, 1986), V:165.
[11] Ibn Abî Hâtim,
al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.
[12] Ibn al-Jauzî,
adh-Dhu’afâ’ wa al-Matrukîn, edisi ‘Abdullah al-Qâdhî, (Beirut : Dâr al-Kutȗb
al-‘Ilmîyyah, 1406 H), III:59.
[13]Ibid.
[14] Ibn Abî Hâtim,
al-Jarh wa at-Ta’dîl…VI : 238.
[15] An-Nawâwî, Tahdzîb
al-Asmâ’ , edisi Musthafa ‘Abd al-Qâdir Athâ, (Beirut : Dâr al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, tt), I:346.
[16] Ibid.
[17] Ibn al-Atsîr,
Usd al-Ghâbah fi Ma’rifah as-Shahâbah, I:657.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar