Jumat, 07 Desember 2018

AYAT MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH


A. Pendahuluan
Al-Qur’an terdiri dari 114 surat diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an itu diturunkan di Makkah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah, sehingga muncul istilah surat atau ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah.[1]
Dalam ilmu Al-Qur’an, Makkiyyah dan Madaniyyah termasuk bahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui sebuah surat itu Makkiyyah atau Madaniyyah kita dapat menemukan faedah yang besar. 
Berbagai teori digunakan oleh para pengemban petunjuk yang terdiri atas para shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya untuk meneliti dengan cermat tempat turunnya Al-Qur’an  ayat demi ayat baik dalam hal waktu maupun tempatnya, sehingga dapat dinyatakan bahwa sebuah surat itu Makkiyyah atau Madaniyyah. Surat Makkiyyah dan Madaniyyah juga memiliki ciri khas yang membedakan  diantara keduanya.

B. Pengertian Makkiyyah dan Madaniyyah
Makkiyyah dan Madaniyyah memiliki pngertian sebagai berikut:
1.      Menurut pendapat ulama yang menitikberatkan masalah tempat
·         Makkiyyah   : ayat yang turun di Makkah
·         Madaniyyah: ayat yang turun di Madinah
2.      Menurut pendapat ulama yang menitikberatkan kepada orang yang dituju oleh dialog ayat Al Qur’an
·         Makkiyyah   : dialog kepada penduduk Makkah
·         Madaniyyah: dialog kepada penduduk Madinah
3.      Menurut pendapat ulama yang menitikberatkan kepada waktu
·         Makkiyyah   : ayat yang turun pada periode sebelum  hijrah (sekalipun turun di luar Makkah)
·         Madaniyyah : ayat yang turun pada periode setelah hijrah (sekalipun turun di Makkah)[2]
 Berdasarkan teori yang digunakan, Makkiyyah dan Madaniyyah memiliki            beberapa pengertian, yaitu:
1. berdasarkan teori mulahadhatu makanin nuzul (teori geografis)
·         Makkiyyah adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan di kota Makkah.
·         Madaniyyah adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan di kota Madinah.
2. berdasarkan teori mulahadhatu mukhathabin binnuzul (teori subyektif)
·         Makkiyyah adalah dialog dengan penduduk kota Makkah.
·         Madaniyyah adalah dialog dengan penduduk kota Madinah.
3. berdasarkan teori mulahadhatu zamanin nuzul (teori historis)
·         Makkiyyah adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah.
·         Madaniyyah adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan sesudah hijrah.
4. berdasarkan teori maa tadhammamat al-surat (teori content analisis)
·         Makkiyyah adalah surat atau ayat-ayat tentang akidah dan kisah umat-umat terdahulu.
·         Madaniyyah adalah surat atau ayat-ayat tentang hukum, tata masyarakat serta ketatanegaraan.[3]
C. Ciri-ciri khas dan perbedaan antara Makkiyyah dan Madaniyyah
                  Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah, para ulama bersandar kepada dua cara utama. Pertama, sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya). Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat turunnya wahyu atau menyaksikannya, atau dari para tabi’in yang mendengar dan menerima dari para sahabat bagaimana, dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu.
Kedua, cara qiyasi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri Makkiyyah dan Madaniyyah. Apabila dalam surat Makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madaniyyah atau mengandung peristiwa Madaniyyah, maka dikatakan bahwa ayat itu Madaniyyah. Dan apabila dalam surat Madaniyyah terdapat ayat yang bersifat Makkiyyah atau mengandung peristiwa Makkiyyah, maka ayat itu Makkiyyah. Bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Makkiyyah, maka surat itu dinamakan surat Makkiyyah.  Demikian pula bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surat itu dinamakan surat Madaniyyah. Ciri-ciri Makkiyyah dan Madaniyyah telah diterangkan oleh para ulama setelah mereka meneliti keduanya kemudian menyimpulkan beberapa ketentuan analogis sehingga ciri-ciri khas gaya keduanya dapat diketahui dan dapat dihasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut. Berikut ciri-ciri khas Makkiyyah dan Madaniyyah:
Ø  Ciri khas Makkiyyah
1.       Mengandung ayat sajdah
2.      Mengandung lafal  kalla. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur’an. Dan disebutkan tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat.
3.      Mengandung  yaa ayyuhan naas.
4.      Mengandung kisah Adam dan Iblis, kecuali surat Baqarah.
5.      Mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu, kecuali surat Baqarah.
6.       Dibuka dengan huruf-huruf singkatan (huruh tahajji), seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim, dan lain-lainnya, kecuali surat Baqarah dan Ali Imran, sedangkan surat Ra’d masih diperselisihkan.
7.      Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat kauniah.
8.      Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
9.      Menyebutkan kisah para nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi orang kafir dan musyrik  sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka, dan sebagai hiburan bagi Rasulullah sehingga ia tabah menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
10.  Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan, pernyataannya singkat, penyampaiannya keras, di telinga terasa menembus, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surat-surat yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.[4]

Ø  Ciri khas Madaniyyah
1.      Mengandung lafal yaa ayyuhal ladziina aamanuu.
2.      Disebutkan orang-orang munafik, kecuali surat Al ‘Ankabut termasuk Makkiyyah.
3.      Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan social, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
4.      Seruan kepada ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka kepada kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu dating kepada mereka karena rasa dengki diantara sesame mereka.
5.      Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
6.      Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.  

D. Faedah Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah banyak faedahnya diantaranya:
1.      Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an.
2.  Pemilahan antara nasikh dan mansukh bila diantara dua ayat ada makna yang  kontradiktif, yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
3.     Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah.
4.     Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullahsejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Makkah maupun periode Madinah, sejak permulaan turunnya wahyu hingga ayat terakhir yang diturunkan.[5]
5.   Mendidik dan mengarahkan para da’I ke jalan Allah agar mengikuti jalur Al Qur’an dalam berbicara dan tema pembicaraannya yang sesuai dengan orang yang akan disampaikan kepadanya dakwah Islam dan juga mngetahui tahapan-tahapan dakwah.
6.    Balaghah Al Qur’an semakin nampak karena susunan bahasa yang dipakai sesuai dengan kenyataan kepribadian lawan bicaranya.
7.      Pembentukan hukum Al Qur’an ditempatkan pada proporsi yang tepat secara berjenjang tergantung kesiapan ummat.[6]
8.      Mengetahui ayat yang turun lebih dahulu.
9.      Mengetahui tarikh tasyri’.
10.  Mengetahui hikmah tasyri’.
11.  Mengetahui uslub Al-Qur’an.

E.  Cara-Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Dalam menetapkan mana ayat-ayat Al-Qur’an yang termasuk kategori Makkiyyah dan Madaniyyah, para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan, yaitu:
1.      Pendekatan Transmisi (Periwayatan)
Dengan perangkat pendekatan transmisi, para sarjana muslim merujuk pada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat, yaitu orang-orang yang besar kemungkinan menyaksikan turunnya wahyu, atau para generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Qur’an. Dalam kitab Al-Intishar, Abu Bakar bin Al-Baqilani lebih lanjut menjelaskan: “Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah hanya bisa dilacak pada otoritas sahabat dan tabi’in saja. Informasi itu tidak ada yang datang dari Rasulullah SAW karena memang ilmunya tentang itu bukan merupakan kewajiban umat”.
2.      Pendekatan Analogi (Qiyas)
Ketika melakukan kategorisasi Makkiyyah dan Madaniyya, para sarjana muslim penganut pendekatan analogi bertolak dari ciri-ciri spesifik dari kedua klasifikasi itu. Dengan demikian, bila dalam surat Makkiyyah terdapat sebuah ayat-ayat yang memiliki ciri-ciri khusus Madaniyyah, maka ayat ini termasuk kategori ayat Madaniyyah. Tentu saja, para ulama telah menetapkan tema-tema sentral yang ditetapkan pula sebagai ciri-ciri khusus bagi kedua klasifikasi itu. Misalnya mereka menetapkan tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai ciri khusus dari Makkiyyah; tema faraidl dan ketentuan had sebagai ciri khusus Madaniyyah.

F.   Nama-nama surat Makkiyyah dan Madaniyyah
Nama-nama surat dalam Al Qur’an yang diklasifikasikan Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut:[7] Pertama, surat-surat Makkiyyah yaitu Al Fatihah, Al An’am (kecuali ayat 20,23,91,93,114,141,151,153), Al A’raf (kecuali ayat 163-170), Yunus (kecuali ayat 40,94-96), Hud (kecuali ayat 12, 17 dan 114), Yusuf (kecuali ayat 28-99), Al-Hijr (kecuali ayat 26,32-33,57 dan 73-78), Al-Kahfi (kecuali ayat 28 dan 83-101), Maryam (kecuali ayat 58-71), Thoha (kecuali ayat 130-131), Al Anbiya’, Al Mu’minun, Al Furqan (kecuali ayat 68-70), Asy Syu’ara’ (kecuali ayat 197 dan 228 sampai akhir), An Naml, Al Qashos (kecuali ayat 52,55 di Madinah dan 85 di Juhfah), Al ‘Ankabut (kecuali ayat 1-11), Ar Rum (kecuali ayat 17), Luqman (kecuali ayat 27-29), As Sajdah (kecuali ayat 16-20), Saba’ (kecuali ayat 6), Fatir, Yasin (kecuali ayat 45), As Saffat, Sad, Az Zumar (kecuali ayat 52-54), Ghafir (kecuali ayat 56-57), Fussilat, Asy Syura (kecuali ayat 23-25 dan 27), Az Zukhruf (kecuali ayat 54), Ad Dukhon, Al Jasiyah (kecuali ayat 14), Al Ahqaf (kecuali ayat 10,15 dan 35), Qof (kecuali ayat 38), Ad Dzariyat, At Thur, An Najm (kecuali ayat 32), Al Qamar (kecuali ayat 44-46), Al Waqi’ah (kecuali ayat 81-82), Al Mulk, Al Qalam (kecuali ayat 17-33 dan 48-50), Al Haqqah, Al Ma’arij, Nuh, Al Jinn, Al Muzammil (kecuali ayat 10,11 dan 20), Al Muddatstsir, Al Qiyamah, Al Mursalat (kecuali ayat 48), An Naba’, An Nazi’at, ‘Abasa, At Takwir, Al Infithar, Al Muthaffifin, Al Insyiqaq, Al Buruj, At Tariq, Al A’la, Al Ghasyiyah, Al Fajr, Al Balad, As Syams, Al Lail, Ad Dhuha, As Syarh, At Thin, Al ‘Alaq, Al Qadar, Al ‘Adiyat, Al Qari’ah, At Takatsur, Al ‘ Ashr, Al Humazah, Al Fil, Quraisy, Al Ma’un (kecuali ayat 1-3), Al Kautsar, Al Kafirun, Al Lahab, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas.
Kedua, surat-surat Madaniyyah yaitu: Al Baqarah (kecuali ayat 281 di Mina), Ali Imran, An Nisa’, Al Maidah (kecuali ayat 3), Al Anfal (kecuali ayat 30-36), At Taubah (kecuali 2 ayat terakhir), Ar Ra’d, Al Hajj (kecuali ayat 52-55 antara Makkah dan Madinah), An Nur, Al Ahzab, Muhammad (kecuali ayat 13 pada waktu hijrah), Al Fath, Al Hujurat, Ar Rahman, Al Hadid, Al Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, As Saff, Al  Jumu’ah, Al Munafiqun, At Taghabun, At Thalaq, At Tahrim, Al Insan, Al Bayyinah, Az Zalzalah, dan Al ‘Adiyat (turun di Mina pada waktu Haji Wada’).
Namun ada beberapa surat yang diperselisihkan oleh para sarjana muslim dalam pengklasifikasian surat Makkiyyah dan Madaniyyah. Menurut Baidlowi ada 17 surat yaitu: Ar Ra’d, Muhammad, At Taghabun, Al Muthaffifin, Ar Rahman, At Tahdid, Al Mujadalah, At Thin, Al Qadar, Al Bayyinah, Az Zalzalah, Al ‘Adiyat, At Takatsur, Al Ma’un, Al Ikhlas, Ad Dhuha dan An Nas. Sementara menurut As Shuyuthi perbedaan pendapat itu terdapat pada surat: Al Hujurat, Al Jumu’ah, Al Munafiqun, Al Mursalat, Al Fajr dan Al Lail.


G. Penutup
Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan bahasan yang penting dalam ilmu Al Qur’an. Kita telah menemukan  banyak faedah di dalamnya. Memang suatu usaha besar yang dilakukan oleh para ulama’ untuk menyelidiki turunnya wahyu dalam segala tahapannya, mempelajari ayat-ayat Qur’an sehingga dapat menentukan waktu serta tempat turunnya dan dengan bantuan tema surat atau ayat dapat merumuskan kaidah-kaidah analogis untuk menentukan apakah sebuah seruan itu termasuk Makki atau Madani, ataukah ia merupakan tema-tema yang menjadi titik tolak dakwah di Makkah atau Madinah. Para Ulama sangat memperhatikan Qur’an dengan cermat. Mereka menertibkan surat-surat sesuai dengan tempat turunnya. Bahkan lebih cermat lagi sehingga mereka membedakan antara yang diturunkan di malam hari dengan yang diturunkan di siang hari, antara yang diturunkan di musim panas dengan yang diturunkan di musim dingin, dan antara yang diturunkan di waktu sedang berada di rumah atau ketika sedang bepergian. Demikian besarnya perhatian mereka teradap pembahasan Makkiyyah dan Madaniyyah ini.

Daftar Pustaka
Al-Qattan, Manna’ Khalil.  Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, 2009. Chirzin, Muhammad. Al Qur’an dan Ilmu Al Qur’an. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.Djalal, Muhammad Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu, 1990.



[1]M. Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hal. 17
[2] M. Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hal. 17-18
[3] M. Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal.
[4] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hal. 86-87
[5] Manna’ Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hal. 81-82
[6] M. Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ilmu Qur’an, hal. 18
[7] M. Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, hal. 20-21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENYERTAAN DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hukum pidana Islam dapat dijelaskan menggunakan teori penyertaan yang sama halnya de...