A. Pendahuluan
Al-Qur’an terdiri dari 114 surat diturunkan secara berangsur-angsur
selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an itu diturunkan di
Makkah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah, sehingga muncul istilah surat
atau ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah.[1]
Dalam ilmu Al-Qur’an, Makkiyyah dan Madaniyyah termasuk bahasan
yang sangat penting karena dengan mengetahui sebuah surat itu Makkiyyah atau
Madaniyyah kita dapat menemukan faedah yang besar.
Berbagai teori digunakan oleh para pengemban petunjuk yang terdiri
atas para shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya untuk meneliti dengan
cermat tempat turunnya Al-Qur’an ayat
demi ayat baik dalam hal waktu maupun tempatnya, sehingga dapat dinyatakan
bahwa sebuah surat itu Makkiyyah atau Madaniyyah. Surat Makkiyyah dan
Madaniyyah juga memiliki ciri khas yang membedakan diantara keduanya.
B. Pengertian
Makkiyyah dan Madaniyyah
Makkiyyah dan Madaniyyah memiliki pngertian sebagai berikut:
1.
Menurut
pendapat ulama yang menitikberatkan masalah tempat
·
Makkiyyah : ayat yang turun di Makkah
·
Madaniyyah:
ayat yang turun di Madinah
2.
Menurut
pendapat ulama yang menitikberatkan kepada orang yang dituju oleh dialog ayat
Al Qur’an
·
Makkiyyah : dialog kepada penduduk Makkah
·
Madaniyyah:
dialog kepada penduduk Madinah
3.
Menurut
pendapat ulama yang menitikberatkan kepada waktu
·
Makkiyyah : ayat yang turun pada periode sebelum hijrah (sekalipun turun di luar Makkah)
·
Madaniyyah
: ayat yang turun pada periode setelah hijrah (sekalipun turun di Makkah)[2]
Berdasarkan teori yang digunakan, Makkiyyah
dan Madaniyyah memiliki beberapa
pengertian, yaitu:
1. berdasarkan
teori mulahadhatu makanin nuzul (teori geografis)
·
Makkiyyah
adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan di kota Makkah.
·
Madaniyyah
adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan di kota Madinah.
2. berdasarkan
teori mulahadhatu mukhathabin binnuzul (teori subyektif)
·
Makkiyyah
adalah dialog dengan penduduk kota Makkah.
·
Madaniyyah
adalah dialog dengan penduduk kota Madinah.
3. berdasarkan teori mulahadhatu zamanin nuzul (teori historis)
·
Makkiyyah
adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah.
·
Madaniyyah
adalah surat atau ayat-ayat yang diturunkan sesudah hijrah.
4. berdasarkan teori maa tadhammamat al-surat (teori content
analisis)
·
Makkiyyah
adalah surat atau ayat-ayat tentang akidah dan kisah umat-umat terdahulu.
·
Madaniyyah
adalah surat atau ayat-ayat tentang hukum, tata masyarakat serta
ketatanegaraan.[3]
C. Ciri-ciri
khas dan perbedaan antara Makkiyyah dan Madaniyyah
Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan
Madaniyyah, para ulama bersandar kepada dua cara utama. Pertama, sima’i naqli
(pendengaran seperti apa adanya). Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari
para sahabat yang hidup pada saat turunnya wahyu atau menyaksikannya, atau dari
para tabi’in yang mendengar dan menerima dari para sahabat bagaimana, dimana
dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu.
Kedua, cara qiyasi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri Makkiyyah dan
Madaniyyah. Apabila dalam surat Makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung
sifat Madaniyyah atau mengandung peristiwa Madaniyyah, maka dikatakan bahwa
ayat itu Madaniyyah. Dan apabila dalam surat Madaniyyah terdapat ayat yang
bersifat Makkiyyah atau mengandung peristiwa Makkiyyah, maka ayat itu
Makkiyyah. Bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Makkiyyah, maka surat itu
dinamakan surat Makkiyyah. Demikian pula
bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surat itu dinamakan
surat Madaniyyah. Ciri-ciri Makkiyyah dan Madaniyyah telah diterangkan oleh
para ulama setelah mereka meneliti keduanya kemudian menyimpulkan beberapa
ketentuan analogis sehingga ciri-ciri khas gaya keduanya dapat diketahui dan
dapat dihasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut. Berikut ciri-ciri
khas Makkiyyah dan Madaniyyah:
Ø Ciri khas Makkiyyah
1.
Mengandung ayat sajdah
2.
Mengandung
lafal kalla. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur’an.
Dan disebutkan tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat.
3.
Mengandung yaa
ayyuhan naas.
4.
Mengandung
kisah Adam dan Iblis, kecuali surat Baqarah.
5.
Mengandung
kisah para nabi dan umat terdahulu, kecuali surat Baqarah.
6.
Dibuka dengan huruf-huruf singkatan (huruh
tahajji), seperti Alif Lam Mim, Alif Lam
Ra, Ha Mim, dan lain-lainnya, kecuali surat Baqarah dan Ali Imran,
sedangkan surat Ra’d masih diperselisihkan.
7.
Ajakan
kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah,
kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan
siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan
bukti-bukti rasional dan ayat kauniah.
8.
Peletakan
dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar
terbentuknya suatu masyarakat, penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan
darah, memakan harta anak yatim secara dzalim, penguburan hidup-hidup bayi
perempuan dan tradisi buruk lainnya.
9.
Menyebutkan
kisah para nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi orang kafir dan
musyrik sehingga mengetahui nasib orang
yang mendustakan sebelum mereka, dan sebagai hiburan bagi Rasulullah sehingga
ia tabah menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
10.
Suku
katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan, pernyataannya
singkat, penyampaiannya keras, di telinga terasa menembus, menggetarkan hati,
dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti
surat-surat yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.[4]
Ø Ciri khas Madaniyyah
1.
Mengandung
lafal yaa ayyuhal ladziina aamanuu.
2.
Disebutkan
orang-orang munafik, kecuali surat Al ‘Ankabut termasuk Makkiyyah.
3.
Menjelaskan
ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan social, hubungan
internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah
perundang-undangan.
4.
Seruan
kepada ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka
untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka kepada kitab-kitab
Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah
ilmu dating kepada mereka karena rasa dengki diantara sesame mereka.
5.
Menyingkap
perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan
menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
6.
Suku
kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan
syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.
D. Faedah Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah banyak faedahnya
diantaranya:
1.
Untuk
dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an.
2. Pemilahan
antara nasikh dan mansukh bila diantara dua ayat ada makna yang kontradiktif, yang
datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
3. Meresapi
gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan
Allah.
4. Mengetahui
sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada
Rasulullahsejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada
periode Makkah maupun periode Madinah, sejak permulaan turunnya wahyu hingga
ayat terakhir yang diturunkan.[5]
5. Mendidik
dan mengarahkan para da’I ke jalan Allah agar mengikuti jalur Al Qur’an dalam
berbicara dan tema pembicaraannya yang sesuai dengan orang yang akan
disampaikan kepadanya dakwah Islam dan juga mngetahui tahapan-tahapan dakwah.
6. Balaghah
Al Qur’an semakin nampak karena susunan bahasa yang dipakai sesuai dengan
kenyataan kepribadian lawan bicaranya.
7.
Pembentukan
hukum Al Qur’an ditempatkan pada proporsi yang tepat secara berjenjang
tergantung kesiapan ummat.[6]
8.
Mengetahui
ayat yang turun lebih dahulu.
9.
Mengetahui
tarikh tasyri’.
10. Mengetahui hikmah tasyri’.
11. Mengetahui uslub Al-Qur’an.
E. Cara-Cara
Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah
Dalam menetapkan mana ayat-ayat Al-Qur’an yang
termasuk kategori Makkiyyah dan Madaniyyah, para sarjana muslim berpegang teguh
pada dua perangkat pendekatan, yaitu:
1.
Pendekatan Transmisi (Periwayatan)
Dengan perangkat pendekatan transmisi, para
sarjana muslim merujuk pada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para
sahabat, yaitu orang-orang yang besar kemungkinan menyaksikan turunnya wahyu,
atau para generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari
para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan
Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Qur’an. Dalam
kitab Al-Intishar, Abu Bakar bin Al-Baqilani lebih lanjut menjelaskan:
“Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah hanya bisa dilacak pada otoritas
sahabat dan tabi’in saja. Informasi itu tidak ada yang datang dari Rasulullah
SAW karena memang ilmunya tentang itu bukan merupakan kewajiban umat”.
2.
Pendekatan Analogi (Qiyas)
Ketika melakukan kategorisasi Makkiyyah dan
Madaniyya, para sarjana muslim penganut pendekatan analogi bertolak dari
ciri-ciri spesifik dari kedua klasifikasi itu. Dengan demikian, bila dalam
surat Makkiyyah terdapat sebuah ayat-ayat yang memiliki ciri-ciri khusus
Madaniyyah, maka ayat ini termasuk kategori ayat Madaniyyah. Tentu saja, para
ulama telah menetapkan tema-tema sentral yang ditetapkan pula sebagai ciri-ciri
khusus bagi kedua klasifikasi itu. Misalnya mereka menetapkan tema kisah para
Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai ciri khusus dari Makkiyyah; tema faraidl
dan ketentuan had sebagai ciri khusus Madaniyyah.
F. Nama-nama
surat Makkiyyah dan Madaniyyah
Nama-nama surat dalam Al Qur’an yang diklasifikasikan Makkiyyah dan
Madaniyyah sebagai berikut:[7] Pertama, surat-surat Makkiyyah yaitu Al
Fatihah, Al An’am (kecuali ayat 20,23,91,93,114,141,151,153), Al A’raf (kecuali
ayat 163-170), Yunus (kecuali ayat 40,94-96), Hud (kecuali ayat 12, 17 dan
114), Yusuf (kecuali ayat 28-99), Al-Hijr (kecuali ayat 26,32-33,57 dan 73-78),
Al-Kahfi (kecuali ayat 28 dan 83-101), Maryam (kecuali ayat 58-71), Thoha
(kecuali ayat 130-131), Al Anbiya’, Al Mu’minun, Al Furqan (kecuali ayat
68-70), Asy Syu’ara’ (kecuali ayat 197 dan 228 sampai akhir), An Naml, Al
Qashos (kecuali ayat 52,55 di Madinah dan 85 di Juhfah), Al ‘Ankabut (kecuali
ayat 1-11), Ar Rum (kecuali ayat 17), Luqman (kecuali ayat 27-29), As Sajdah
(kecuali ayat 16-20), Saba’ (kecuali ayat 6), Fatir, Yasin (kecuali ayat 45),
As Saffat, Sad, Az Zumar (kecuali ayat 52-54), Ghafir (kecuali ayat 56-57),
Fussilat, Asy Syura (kecuali ayat 23-25 dan 27), Az Zukhruf (kecuali ayat 54),
Ad Dukhon, Al Jasiyah (kecuali ayat 14), Al Ahqaf (kecuali ayat 10,15 dan 35), Qof
(kecuali ayat 38), Ad Dzariyat, At Thur, An Najm (kecuali ayat 32), Al Qamar (kecuali
ayat 44-46), Al Waqi’ah (kecuali ayat 81-82), Al Mulk, Al Qalam (kecuali ayat
17-33 dan 48-50), Al Haqqah, Al Ma’arij, Nuh, Al Jinn, Al Muzammil (kecuali
ayat 10,11 dan 20), Al Muddatstsir, Al Qiyamah, Al Mursalat (kecuali ayat 48), An
Naba’, An Nazi’at, ‘Abasa, At Takwir, Al Infithar, Al Muthaffifin, Al Insyiqaq,
Al Buruj, At Tariq, Al A’la, Al Ghasyiyah, Al Fajr, Al Balad, As Syams, Al
Lail, Ad Dhuha, As Syarh, At Thin, Al ‘Alaq, Al Qadar, Al ‘Adiyat, Al Qari’ah,
At Takatsur, Al ‘ Ashr, Al Humazah, Al Fil, Quraisy, Al Ma’un (kecuali ayat
1-3), Al Kautsar, Al Kafirun, Al Lahab, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas.
Kedua, surat-surat Madaniyyah yaitu: Al Baqarah (kecuali ayat 281 di
Mina), Ali Imran, An Nisa’, Al Maidah (kecuali ayat 3), Al Anfal (kecuali ayat
30-36), At Taubah (kecuali 2 ayat terakhir), Ar Ra’d, Al Hajj (kecuali ayat
52-55 antara Makkah dan Madinah), An Nur, Al Ahzab, Muhammad (kecuali ayat 13
pada waktu hijrah), Al Fath, Al Hujurat, Ar Rahman, Al Hadid, Al Mujadalah, Al
Hasyr, Al Mumtahanah, As Saff, Al
Jumu’ah, Al Munafiqun, At Taghabun, At Thalaq, At Tahrim, Al Insan, Al
Bayyinah, Az Zalzalah, dan Al ‘Adiyat (turun di Mina pada waktu Haji Wada’).
Namun ada beberapa surat yang diperselisihkan oleh para sarjana
muslim dalam pengklasifikasian surat Makkiyyah dan Madaniyyah. Menurut Baidlowi
ada 17 surat yaitu: Ar Ra’d, Muhammad, At Taghabun, Al Muthaffifin, Ar Rahman,
At Tahdid, Al Mujadalah, At Thin, Al Qadar, Al Bayyinah, Az Zalzalah, Al
‘Adiyat, At Takatsur, Al Ma’un, Al Ikhlas, Ad Dhuha dan An Nas. Sementara
menurut As Shuyuthi perbedaan pendapat itu terdapat pada surat: Al Hujurat, Al
Jumu’ah, Al Munafiqun, Al Mursalat, Al Fajr dan Al Lail.
G. Penutup
Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan bahasan
yang penting dalam ilmu Al Qur’an. Kita telah menemukan banyak faedah di dalamnya. Memang suatu usaha
besar yang dilakukan oleh para ulama’ untuk menyelidiki turunnya wahyu dalam
segala tahapannya, mempelajari ayat-ayat Qur’an sehingga dapat menentukan waktu
serta tempat turunnya dan dengan bantuan tema surat atau ayat dapat merumuskan
kaidah-kaidah analogis untuk menentukan apakah sebuah seruan itu termasuk Makki
atau Madani, ataukah ia merupakan tema-tema yang menjadi titik tolak dakwah di
Makkah atau Madinah. Para Ulama sangat memperhatikan Qur’an dengan cermat.
Mereka menertibkan surat-surat sesuai dengan tempat turunnya. Bahkan lebih
cermat lagi sehingga mereka membedakan antara yang diturunkan di malam hari
dengan yang diturunkan di siang hari, antara yang diturunkan di musim panas
dengan yang diturunkan di musim dingin, dan antara yang diturunkan di waktu
sedang berada di rumah atau ketika sedang bepergian. Demikian besarnya
perhatian mereka teradap pembahasan Makkiyyah dan Madaniyyah ini.
Daftar Pustaka
Al-Qattan, Manna’ Khalil.
Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, 2009. Chirzin, Muhammad. Al Qur’an dan Ilmu Al Qur’an. Jakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998.Djalal, Muhammad Abdul. Ulumul Qur’an.
Surabaya: Dunia Ilmu, 1990.
[1]M.
Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul
Qur’an, hal. 17
[2] M.
Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul
Qur’an, hal. 17-18
[3] M. Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal.
[4]
Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu
Qur’an, hal. 86-87
[5]
Manna’ Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu
Qur’an, hal. 81-82
[6] M.
Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ilmu Qur’an,
hal. 18
[7] M.
Chirzin, M.Ag, Al Qur’an dan Ulumul
Qur’an, hal. 20-21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar