A. Pendahuluan
Sejak wafatnya Rasulullah SAW, hadits Nabi terus menerus diriwayatkan
dari satu sahabat ke sahabat perawi yang lain dalam kurun waktu yang lama tanpa
ada pendokumentasian. Sampai pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul
Aziz, muncul kekhawatiran beliau akan hilangnya hadits-hadits nabi disebabkan
ketiadaan dokumentasi hadits dan wafatnya sahabat-sahabat Nabi. Akhirnya beliau
mengutus Ibnu Hazm dan Az-Zuhri untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Namun
tulisan kedua tokoh ini pun tidak dapat dijumpai lagi. Kitab koleksi hadits
tertua yang masih dapat dijumpai hingga saat ini adalah Al-Muwattho’ karangan
Imam Malik yang ditulis pada tahun 144H. Hal itu menunjukkan adanya jarak waktu
yang cukup lama dari masa wafatnya Nabi dengan masa ketika kitab tertua hadits
itu ditulis yaitu kurang lebih 130 tahun.
Jarak waktu yang lama inilah yang mengharuskan para penulis hadits untuk
menyebutkan rangkaian orang yang mentransmisikan hadits itu dari generasi satu
ke generasi berikutnya. Rangkaian orang-orang inilah yang disebut sanad,
sedangkan kandungan (materi) hadits itu disebut matan.[1]
Sanad dan matan merupakan pembahasan yang sangat penting dalam ilmu
hadits karena keduanya merupakan struktur yang membangun sebuah hadits. Bahkan
jumlah sanad itu mempengaruhi kualitas sebuah hadits dilihat dari para perawi
yang terangkai dalam sanad tersebut.
A.
Sanad
1. Pengertian Sanad
Sanad menurut lughah, ialah: “sesuatu yang
kita bersandar kepadanya, baik tembok atau selainnya”. Ada juga yang
mengartikan “bagian bumi yang menonjol”.[2] Ada
juga yang berarti “kaki bukit atau kaki gunung”.[3]
Sedangkan menurut istilah, sanad
adalah:
طريق متن الحديث
“Jalan yang menyampaikan kita
kepada matan Hadis”.
Ringkasnya sanad hadis ialah yang disebut
sebelum matan Hadis.
Sanad
secara terminologis juga dapat diartikan:
سلسلة الرجال الموصلة للمتن[4]
“Silsilah
orang-orang yang menghubungkan Hadis”
Silsilah
orang-orang maksudnya adalah susunan atau rangkaian orang-orang perawi Hadis
yang menyampaikan materi Hadis sejak mukharrij sampai kepada perawi terakhir
yang bersambung kepada Nabi saw. Sanad disebut juga thariq atau wajh.[5]
Berikut
adalah contoh hadits:
حد ثنا عبد الله بن يوسف قال: أخبرنا
مالك بن انس عن ابن شهاب عن سالم بن عبد الله عن ابيه ان رسول الله ص.م.
مرّ على رجل من الأنصار وهو يعظ اخاه فى الحياء فقال رسول الله
صلعم دعه فان الحياء من الإيمان ( رواه البخارى )
Dari
contoh hadits di atas, yang disebut sanad adalah
حد ثنا عبد الله بن يوسف قال: أخبرنا
مالك بن انس عن ابن شهاب عن سالم بن عبد الله عن ابيه
Hadits
di atas diterima oleh Al-Bukhori melalui Abdullah bin Yusuf yang memperolehnya
dari Malik bin Anas yang memperolehnya dari Ibnu Syihab yang memperolehnya dari
Salim bin Abdullah yang memperolehnya dari ayahnya Abdullah bin Umar yang
mengetahui langsung dari Nabi. Rangkaian perawi dari Abdullah bin Yusuf sampai
Abdullah itulah yang disebut sanad.
Untuk hadits diatas, Abdullah bin
Yusuf adalah awal sanad dan Abdullah bin Umar (ayah Salim) sebagai akhir sanad.
Akan tetapi, bila dilihat dari perawi, maka susunannya adalah sebagai berikut:
a.
Abdullah bin Yusuf sebagai perawi pertama
b. Malik
bin Anas sebagai perawi kedua
c. Ibnu
Syihab sebagai perawi ketiga
d. Salim
bin Abdullah sebagai perawi keempat
e.
Abdullah bin Umar (ayah Salim) sebagai perawi kelima
f.
Al-Bukhori sebagai perawi keenam[6]
Dalam hal ini juga dikenal istilah
isnad, musnad dan musnid.
Isnad secara lughah ialah menyandarkan
sesuatu kepada yang lain. Sedangkan menurut istilah adalah:
رفع الحديث الى قائله او ناقله
“Mengangkat
Hadis kepada yang mengatakannya atau yang menukilkannya”.
Atau dapat juga diartikan sebagai usaha
seorang ahli hadits untuk menerangkan suatu hadits yang diikutinya dengan
penjelasan kepada siapa hadits itu disandarkan.[7]
Menurut
Ath-Thibi, kata isnad dan as-sanad mempunyai arti yang hampir sama atau
berdekatan. Bahkan menurut Ibnu Jama’ah, ulama muhadditsin memandang kedua
istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, yang keduanya dapat dipakai
secara bergantian.
Sedangkan
musnad memiliki beberapa arti, yaitu pertama,
berarti hadits yang diriwayatkan dan disandarkan kepada seseorang yang
membawakannya. Kedua, nama suatu
kitab yang menghimpun hadits-hadits dengan system penyusunan berdasarkan
nama-nama sahabat rawi hadits, ketiga,
nama bagi hadits yang memenuhi kriteria marfu’ dan muttashil.[8]
Sedangkan
musnid secara bahasa berarti orang yang menyandarkan. Secara istilah adalah
orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik dia memiliki pengetahuan
tentang sanad tersebut atau tidak, hanya sekedar meriwayatkan.
2. Jenis-Jenis Sanad
a. Sanad ‘Aly
Sanad ‘aly adalah sanad yang jumlah rawinya
lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad lain. Sanad ini dibagi menjadi dua
yaitu:
·
Sanad ‘aly yang bersifat
mutlak adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya hingga sampai kepada Rasulullah
lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad lain.
·
Sanad ‘aly yang bersifat
nisbi adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya lebih sedikit jika dibandingkan
dengan para imam ahli hadits, meskipun jumlah rawinya setelah mereka hingga
sampai kepada Rasulullah lebih banyak.
b. Sanad Nazil
Sanad
nazil adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya lebih banyak jika dibandingkan dengan sanad yang
lain.[9]
3. Tinggi Rendahnya Tingkatan Sanad (Silsilatu Adz-Dzahab)
a. Ashahhul Asanid (sanad-sanad yang lebih shahih)
Imam An-Nawawi dan
Ibnu As-shalah tidak membenarkan menilai suatu hadits dengan asshahhul asanid
secara mutlak, yakni tanpa menyandarkan kepada sesuatu hal yang tertentu.
Penilaian asshahhul asanid tersebut hendaklah secara muqayyad. Artinya
dikhususkan kepada shahabat tertentu, penduduk kota tertentu atau masalah
tertentu. Namun segolongan muhadditsin lain membolehkan secara mutlak.
b. Ahsanul Asanid
Lebih rendah
derajatnya daripada yang bersanad asshahhul asanid. Ahsanul asanid antara lain,
bila hadits tersebut bersanad:
1. Bahaz bin Hakim
dari Hakim bin Mu’awiyah dari Mu’awiyah bin Haidah.
2. Amru bin Syu’aib
dari Syu;aib bin Muhammad dari Muhammad bin Abdillah
bin Amr bin ‘Ash.
c. Adl’aful Asanid
Rangkaian sanad
yang paling rendah derajatnya disebut adl’aful asanid.[10]
4. Kedudukan Sanad
Semua
ulama hadits menilai bahwa kedudukan sanad sangatlah penting dalam riwayat
hadits. Sebuah berita yang dianggap sebagai hadits nabi tetapi tidak
memiliki sanad maka berita itu tidak
dianggap hadits. Apabila ada non ahli hadits menganggap berita tersebut sebagai
hadits, maka para ulama hadits akan menganggapnya sebagai hadits maudhu’ atau
hadits palsu. Kedudukan sanad dalam hadits antara lain:
a.
Sanad sebagai ajaran agama
Dikutip
dari pernyataan Ibnu Mubarak: “Sanad itu
ajaran agama, seandainya tidak ada sanad. Niscaya ada orang bicara semaunya”.
Asy-Syafi’i
berkata yang artinya:“Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis
tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. ”
b.
Sanad sebagai perantara
Maksudnya
adalah perantara generasi satu kepada generasi yang lain.
c.
Sanad adalah pangkal kebenaran
Hal
ini menegaskan bahwa kutipan-kutipan hadits baru bisa dipercaya bila bersumber
dari orang-orang yang layak sesuai dengan profesinya dan memiliki kredibilitas
keilmuan maupun moral.
d.
Sanad adalah standar ilmiah
Maksudnya
adalah bahwa bobot ilmiah suatu hadits tidak hanya dilihat dari siapa yang
menyatakan tetapi juga terkait dengan transmisi yang dilakukan oleh pembawa
berita sehingga berita itu benar-benar sesuai dengan sumbernya.[11]
B. Matan
1. Pengertian
matan
Matan menurut lughat ialah jalan tengah,
punggung bumi atau bumi yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah, matan
Hadis ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang
terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah SAW, sahabat ataupun Tabi’in.
Baik pembicaraan itu tentang apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi, sifat
fisik Nabi, perangai Nabi atau taqrir Nabi.
Menurut Ath Thibi, matan ialah:
ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعانى
“lafadz-lafadz
Hadis yang dengan lafadz-lafadz itulah terbentuk makna”.
Sedang menurut Ibnu Jama’ah matan ialah:
ما ينتهى إليه السند غاية السند
“Sesuatu
yang kepadanya berakhir sanad (perkataan yang disebut sesuatu berakhir sanad)”.[12]
Dalam definisi Ath-Thahhan, matan ialah
perkataan yang ada di akhir sanad.
Berikut contoh hadits:
حد ثنا عبد الله بن يوسف قال: أخبرنا
مالك بن انس عن ابن شهاب عن سالم بن عبد الله عن ابيه ان رسول الله ص.م.
مرّ على رجل من الأنصار وهو يعظ اخاه فى الحياء فقال رسول الله
صلعم دعه فان الحياء من الإيمان ( رواه البخارى )
Dari contoh di atas yang disebut dengan matan yaitu mulai anna Rasulullah sampai akhir.
2. Perbedaan kandungan matan hadits
Periwayatan matan hadits
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Riwayat
bi al-lafdzi, adalah menyampaikan kembali kata-kata Nabi dengan redaksi kalimat
yang sama dengan apa yang disabdakan Nabi. Dengan periwayatan ini, maka tidak
ada perbedaan antara perawi satu dengan perawi lainnya dalam menyampaikan
hadits Nabi.
b. Riwayat bi al-ma’na, periwayatan dengan makna yang
terkandung dalam hadits namun redaksinya berbeda dengan yang diucapkan Nabi.
Cara kedua inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan
kandungan matan hadits. Banyak sekali hadits yang ada di dalam kitab-kitab
karya para perawi yang ditulis dengan redaksi yang sedikit banyak berbeda redaksi
kalimatnya, meskipun makna yang dikandung sama. Periwayatan ini telah terjadi
sejak masa shahabat karena mereka tidak mencatat hadits pada saat mereka
bersama Nabi SAW, juga tidak menghafal kata per kata Nabi, maka mereka
menyampaikan dari apa yang mereka ingat saja.
Semua ulama hadits sepakat untuk menerima riwayat para
shahabat meskipun berbeda-beda redaksi, alasannya adalah para shahabat memiliki
pengetahuan bahasa yang tinggi dan para shahabat menyaksikan langsung keadaan
dan perbuatan Nabi. Mayoritas ulama hadits juga membolehkan periwayatan bi
al-ma’na yang dilakukan oleh para perawi selain shahabat dengan ketentuan:
a. mengetahui pengetahuan bahasa arab yang mendalam
b. dilakukan karena terpaksa
c. yang diriwayatkan bi al-ma’na bukan bacaan-bacaan bersifat ta’abbudi
d. periwayatan bi al-ma’na sepatutnya
au nahwa hadza,atau yang semakna dengannya, setelah menyebut matan hadits
e. kebolehan ini hanya berlaku sebelum masa pembukuan hadits secara
resmi.[13]
Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam
memahami hadist ialah:
·
Ujung sanad sebagai sumber
redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
·
Matan hadist itu sendiri
dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan
atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang
bertolak belakang).
C. Penutup
Sanad dan matan merupakan struktur hadits yang mambangun
sebuah hadits. Kedudukan keduanya sangatlah penting. Penulisan sanad dalam
hadits sangat penting mengingat begitu jauhnya jarak waktu antara wafatnya
Rasulullah SAW dengan masa penulisan kitab-kitab hadits yang masih dapat kita
jumpai sampai saat ini sehingga sangatlah perlu kita mengetahui rangkaian para
sahabat yang telah meriwayatkan sebuah hadits lewat sanad hadits tersebut. Memperhatikan sanad adalah
suatu keistimewaan dari ketentuan-ketentuan ummat Islam. Dengan adanya sanad
inilah, para imam ahli hadits dapat membedakan hadits yang shahih dan hadits
yang dha’if dengan cara melihat para perawi hadits tersebut. Jika tidak ada
sanad, niscaya Islam sekarang akan sama seperti pada zaman sebelumnya karena
pada zaman sebelumnya tidak ada sanad sehingga perkataan nabi-nabi mereka dan
orang-orang sholeh diantara mereka tidak dapat dibedakan. Adapun Islam yang
sekarang telah berumur 1400 tahun lebih masih dapat dibedakan antara perkataan
Rasulullah SAW dan perkataan sahabat.[15]
Begitu pula matan, matan juga
memiliki kedudukan yang sangat penting dalam struktur sebuah hadits karena
matan pokok materi yang dibicarakan dalam hadits.
Daftar Pustaka
Ash-Shiddieqy,
M. Hasbi. 1987. Pokok-Pokok Ilmu Diroyah
Hadits vol. 1. Jakarta: Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy,
M. Hasbi. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT Pustaka Rizki
Putra.
Ismail, M.
Syuhudi. 1987. Pengantar Ilmu Hadits. Bandung: Angkasa.
Khon, Majid dkk. 2006. Ulumul Hadits. Jakarta: PSW UIN Syarif Hidayatullah.
Mahmud ath-thahhan. 1979. Taisir Mushthalah Hadits. Beirut: Daar Ats-tsaqafah Al- Islamiyyah.
Rahman, Fatchur.
1968. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadits.
Yogyakarta: PT Alma’arif.
Sholahuddin,
M.Agus. 2008. Ulumul Hadits. Bandung:
Pustaka Setia.
www.google.co.id
[1] Majid Khon dkk, Ulumul Qur’an, hal 126
[2] M. Agus Sholahuddin, Ulumul Hadits, hal.89
[3] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, hal. 17
[4]
Mahmud ath-thahhan,
Taisir Musthalah Hadits,
hal. 16
[5] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, hal. 168
[6] Majid Khon dkk, Ulumul Hadits, hal. 127
[7] Majid Khon dkk, Ulumul Hadits, hal.130
[8] Mahmud Ath-thahhan, Taisir Musthalah Hadits, hal. 16
[9] M. Agus Sholahuddin, Ulumul Hadits, hal. 90
[10] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahu’l Hadits, hal. 43-44
[11] Majid Khon dkk, Ulumul Hadits, hal. 128-129
[12] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Diroyah Hadits, hal. 45
[13] Majid Khon dkk, Ulumul Hadits, hal. 133
[14] www.google.co.id
[15] M. Agus Sholahuddin, Ulumul Hadits, hal. 103
Tidak ada komentar:
Posting Komentar