Kamis, 13 Desember 2012

CERITA RAKYAT "REOG PONOROGO

Sebenarnya cerita rakyat "Reog Ponorogo" ini ada bnyak versi. Ini salah satunya:

Dahulu kala tersebutlah seorang raja dari kerajaan Bantarangin yang bernama Prabu Klana Sewandana. Kerajaan ini terletak di timur Gunung Lawu atau di sebelah barat Gunung Wilis. Diperkirakan terletak di daerah Ponorogo saat ini. Prabu Klana Sewandana adalah seorang raja yang tampan, gagah,  serta sakti mandraguna. Ia memiliki Pecut Samandiman yang sangat ampuh. Ia memiliki patih yang sangat setia dan juga sakti bernama Pujangganong.
Suatu  hari, Prabu Klana Sewandana mendengar kabar bahwa Raja Kerajaan Daha Kediri tengah mencari calon suami yang pantas untuk anaknya yang cantik rupawan bernama Dewi Sanggalangit. Prabu Klana Sewandana pun mengutus Patih Pujangganong untuk menemui Raja Kediri.
“Hai Pujangganong! Pergilah ke Kerajaan Kediri untuk menghadap Raja Kediri, sampaikan pada beliau bahwa aku hendak melamar putrinya, Dewi Sanggalangit”, perintah Klana Sewandana.
Pujangganong pun bertandang ke Kerajaan Kediri dan menemui Sang Raja.
“Hamba diutus oleh Prabu Kelana Sewandana, Raja dari Kerajaan Bantarangin. Kedatangan hamba kemari bermaksud untuk meminang Dewi Sanggalangit”, kata Pujangganong kepada Raja Kediri.
“ Sanggalangit yang berhak menentukan, sebentar. Panggil Sanggalangit kemari!” perintah Raja pada salah seorang abdi. Melihat pujangganong, Dewi Sanggalangit tercengang. Ia mengira bahwa yang hendak meminangnya adalah Pujangganong. Akhirnya Dewi Sanggalangit berpikir bagaimana caranya agar pinangannya kali ini gagal karena melihat wajah Pujangganong yang buruk dan  menyeramkan. Dewi Sanggalangit pun memberikan 3 syarat jika hendak melamar dirinya. Pertama, calon pengantin laki-laki harus laku landhak sampai ke Kediri, yakni berjalan melewati terowongan bawah tanah. Kedua, mampu menyuguhkan kesenian yang belum pernah ditemukan dimanapun. Ketiga, membawakan binatang berkepala dua.mendengar hal itu, Pujangganong langsung menyanggupinya dan bergegas undur diri tanpa berpikir panjang. Ia tidak tahu kalau ternyata persyaratan-persyaratan itu diajukan Dewi Sanggalangit karena kesalahpahamannya mengira bahwa yang bermaksud melamar adalah dirinya.
Sesampainya di Kerajaan Bantarangin, Pujangganong melaporkan tugasnya  serta persyaratan-persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalangit. Rupanya syarat-syarat tersebut diterima dengan senang hati oleh Prabu Klana Sewandana.
Kecantikan Dewi Sanggalangit memang tak dapat dipungkiri. Suatu ketika, Raja dari Kerajaan Lodaya yang bernama Singobarong juga berniat hendak melamar Dewi Sanggalangit. Namun ia mengetahui bahwa Prabu Klana Sewandana juga hendak melamar Dewi Sanggalangit.maka, ketika hari lamaran tiba, Singobarong  menghadang rombongan Prabu Klana Sewandana. Terjadilah pertempuran sengit. Dengan kesaktiannya, Singobarong mampu berubah menjelma menjadi seekor harimau. Ketika ia berusaha menyerang Prabu Klana Sewandana, tiba-tiba hinggap seekor burung merak kesayangannya yang sering memekan kutu-kutu di kepalanya. Singobarong pun lengah menikmati patokan-patokan burung merak yang mulai memakan kutu-kutu yang ada di kepalanya. Maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Prabu Klana Sewandana.  Prabu Klana Sewandana langsung mencambukkan Pecut Samandiman ke arah Singobarong.
“Rasakan kau Singobarong! Jadilah kau binatang berkepala dua!”teriak Prabu Klana Sewandana.
 Seketika itu Singobarong langsung lemas, kekuatan dan kesaktiannya hilang. Ia tak mampu menjelma kembali menjadi manusia. Burung merak yang ada di kepalanya pun tak bisa lepas.
Rombongan Prabu Klana Sewandana pun meneruskan perjalanan melewati terowongan bawah tanah. Sesampainya di Kerajaan Kediri, rombongan ini langsung menghadap Raja dan mempersembahkan sebuah tarian yang mempertunjukkan binatang berkepala dua yang pada akhirnya diberi sebutan Reog.
Setelah pertunjukan usai Prabu Klana Sewandana langsung menghadap Sang Raja,”Bagaimana baginda Raja, hamba telah memenuhi semua persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalangit lewat Patih Pujangganong yang pernah hamba utus kemari, sudikah kiranya untuk menerima hamba sebagai menantu?” tanya Klana Sewandana dengan penuh hormat.
“tanyakan pada putriku saja, karena dia yang akan menjalaninya kelak”, kata ayahanda Sanggalangit. Dewi Sanggalangit yang sejak awal berdiri di samping ayahandanya itu mukanya berubah menjadi kemerah-merahan.
“Maaf tuan, sebenarnya siapa gerangan yang hendak melamar hamba. Tuankah atau Pujangganong?” tanya Sanggalangit terbata-bata.
“Oh, akulah yang hendak melamar engkau wahai Dewi Sanggalangit, aku sengaja mengutus Pujangganong patihku meminangmu untukku”, jawab Prabu Klana Sewandana. Wajah Dewi Sanggalangit semakin memerah. Ia merasa malu.
“Tuan Prabu, awalnya hamba mengira bahwa yang hendak melamar hamba adalah Pujangganong, maka dari itu hamba memberikan persyaratan-persyaratan itu supaya ia gagal karena hamba tidak mau menolaknya hanya dengan alasan hamba tak suka. Tapi ternyata hamba salah. Jika hamba tahu jika tuan Prabu yang tampan dan gagah perkasalah yang hendak melamar hamba,maka hamba tak akan memberikan syarat yang macam-macam seperti itu. Emm..dengan senang hati hamba menerima lamaran tuan”, kata Dewi Sanggalangit. Mendengar hal itu, semuanya sontak bersorak sorai.
Akhirnya Prabu Klana Sewandana dan Dewi Sanggalangit menikah. Dewi Sanggalangit diboyong ke Bantarangin oleh rombongan Prabu Klana Sewandana. Sejak saat itu reog sering dipertontonkan di Kerajaan Bantarangin bahkan tersohor sampai ke luar wilayah. Hingga saat ini reog  terkenal di seluruh penjuru dunia dan dikenal dengan sebutan Reog Ponorogo karena konon Kerajaan Bantarangin tepatnya terletak di Kabupaten Ponorogo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENYERTAAN DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

Perbuatan pidana yang dilakukan secara massal dalam hukum pidana Islam dapat dijelaskan menggunakan teori penyertaan yang sama halnya de...