Sebenarnya cerita rakyat "Reog Ponorogo" ini ada bnyak versi. Ini salah satunya:
Dahulu kala tersebutlah seorang
raja dari kerajaan Bantarangin yang bernama Prabu Klana Sewandana. Kerajaan ini
terletak di timur Gunung Lawu atau di sebelah barat Gunung Wilis. Diperkirakan
terletak di daerah Ponorogo saat ini. Prabu Klana Sewandana adalah seorang raja
yang tampan, gagah, serta sakti
mandraguna. Ia memiliki Pecut Samandiman yang sangat ampuh. Ia memiliki patih
yang sangat setia dan juga sakti bernama Pujangganong.
Suatu hari, Prabu Klana Sewandana mendengar kabar
bahwa Raja Kerajaan Daha Kediri tengah mencari calon suami yang pantas untuk
anaknya yang cantik rupawan bernama Dewi Sanggalangit. Prabu Klana Sewandana
pun mengutus Patih Pujangganong untuk menemui Raja Kediri.
“Hai Pujangganong! Pergilah ke
Kerajaan Kediri untuk menghadap Raja Kediri, sampaikan pada beliau bahwa aku
hendak melamar putrinya, Dewi Sanggalangit”, perintah Klana Sewandana.
Pujangganong pun bertandang ke
Kerajaan Kediri dan menemui Sang Raja.
“Hamba diutus oleh Prabu Kelana
Sewandana, Raja dari Kerajaan Bantarangin. Kedatangan hamba kemari bermaksud
untuk meminang Dewi Sanggalangit”, kata Pujangganong kepada Raja Kediri.
“ Sanggalangit yang berhak
menentukan, sebentar. Panggil Sanggalangit kemari!” perintah Raja pada salah
seorang abdi. Melihat pujangganong, Dewi Sanggalangit tercengang. Ia mengira
bahwa yang hendak meminangnya adalah Pujangganong. Akhirnya Dewi Sanggalangit
berpikir bagaimana caranya agar pinangannya kali ini gagal karena melihat wajah
Pujangganong yang buruk dan menyeramkan.
Dewi Sanggalangit pun memberikan 3 syarat jika hendak melamar dirinya. Pertama,
calon pengantin laki-laki harus laku landhak sampai ke Kediri, yakni berjalan
melewati terowongan bawah tanah. Kedua, mampu menyuguhkan kesenian yang belum
pernah ditemukan dimanapun. Ketiga, membawakan binatang berkepala dua.mendengar
hal itu, Pujangganong langsung menyanggupinya dan bergegas undur diri tanpa
berpikir panjang. Ia tidak tahu kalau ternyata persyaratan-persyaratan itu
diajukan Dewi Sanggalangit karena kesalahpahamannya mengira bahwa yang
bermaksud melamar adalah dirinya.
Sesampainya di Kerajaan
Bantarangin, Pujangganong melaporkan tugasnya
serta persyaratan-persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalangit. Rupanya
syarat-syarat tersebut diterima dengan senang hati oleh Prabu Klana Sewandana.
Kecantikan Dewi Sanggalangit
memang tak dapat dipungkiri. Suatu ketika, Raja dari Kerajaan Lodaya yang
bernama Singobarong juga berniat hendak melamar Dewi Sanggalangit. Namun ia
mengetahui bahwa Prabu Klana Sewandana juga hendak melamar Dewi
Sanggalangit.maka, ketika hari lamaran tiba, Singobarong menghadang rombongan Prabu Klana Sewandana.
Terjadilah pertempuran sengit. Dengan kesaktiannya, Singobarong mampu berubah
menjelma menjadi seekor harimau. Ketika ia berusaha menyerang Prabu Klana
Sewandana, tiba-tiba hinggap seekor burung merak kesayangannya yang sering
memekan kutu-kutu di kepalanya. Singobarong pun lengah menikmati
patokan-patokan burung merak yang mulai memakan kutu-kutu yang ada di
kepalanya. Maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Prabu Klana
Sewandana. Prabu Klana Sewandana
langsung mencambukkan Pecut Samandiman ke arah Singobarong.
“Rasakan kau Singobarong! Jadilah
kau binatang berkepala dua!”teriak Prabu Klana Sewandana.
Seketika itu Singobarong langsung lemas,
kekuatan dan kesaktiannya hilang. Ia tak mampu menjelma kembali menjadi
manusia. Burung merak yang ada di kepalanya pun tak bisa lepas.
Rombongan Prabu Klana Sewandana
pun meneruskan perjalanan melewati terowongan bawah tanah. Sesampainya di
Kerajaan Kediri, rombongan ini langsung menghadap Raja dan mempersembahkan
sebuah tarian yang mempertunjukkan binatang berkepala dua yang pada akhirnya
diberi sebutan Reog.
Setelah pertunjukan usai Prabu
Klana Sewandana langsung menghadap Sang Raja,”Bagaimana baginda Raja, hamba
telah memenuhi semua persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalangit lewat Patih
Pujangganong yang pernah hamba utus kemari, sudikah kiranya untuk menerima
hamba sebagai menantu?” tanya Klana Sewandana dengan penuh hormat.
“tanyakan pada putriku saja,
karena dia yang akan menjalaninya kelak”, kata ayahanda Sanggalangit. Dewi
Sanggalangit yang sejak awal berdiri di samping ayahandanya itu mukanya berubah
menjadi kemerah-merahan.
“Maaf tuan, sebenarnya siapa
gerangan yang hendak melamar hamba. Tuankah atau Pujangganong?” tanya
Sanggalangit terbata-bata.
“Oh, akulah yang hendak melamar
engkau wahai Dewi Sanggalangit, aku sengaja mengutus Pujangganong patihku
meminangmu untukku”, jawab Prabu Klana Sewandana. Wajah Dewi Sanggalangit
semakin memerah. Ia merasa malu.
“Tuan Prabu, awalnya hamba mengira
bahwa yang hendak melamar hamba adalah Pujangganong, maka dari itu hamba
memberikan persyaratan-persyaratan itu supaya ia gagal karena hamba tidak mau
menolaknya hanya dengan alasan hamba tak suka. Tapi ternyata hamba salah. Jika
hamba tahu jika tuan Prabu yang tampan dan gagah perkasalah yang hendak melamar
hamba,maka hamba tak akan memberikan syarat yang macam-macam seperti itu.
Emm..dengan senang hati hamba menerima lamaran tuan”, kata Dewi Sanggalangit.
Mendengar hal itu, semuanya sontak bersorak sorai.
Akhirnya Prabu Klana Sewandana dan
Dewi Sanggalangit menikah. Dewi Sanggalangit diboyong ke Bantarangin oleh
rombongan Prabu Klana Sewandana. Sejak saat itu reog sering dipertontonkan di
Kerajaan Bantarangin bahkan tersohor sampai ke luar wilayah. Hingga saat ini
reog terkenal di seluruh penjuru dunia
dan dikenal dengan sebutan Reog Ponorogo karena konon Kerajaan Bantarangin
tepatnya terletak di Kabupaten Ponorogo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar